0 0
Read Time:1 Minute, 39 Second

Slow design dalam dunia sepatu menuntut kesabaran, pilihan material cermat, dan bentuk yang bisa bertahan puluhan tahun. Pendekatan ini menolak tren cepat dan menempatkan fungsi serta ketahanan di depan estetika sementara.

Dari percakapan di grup Facebook para “nerd delle sneakers” hingga ke lingkaran puncak Clarks Originals, Matteo Bellentani kembali diajak bicara oleh Style Corriere (11 Juni 2026) tentang tantangan mendesain ikon yang mampu menantang dekade. Percakapan itu menyoroti hubungan antara penghormatan terhadap subkultur dan kebutuhan untuk menyederhanakan desain.

Dari komunitas Facebook ke Clarks Originals

Komunitas online, khususnya grup Facebook penggemar sneakers, menjadi ruang diskusi dan eksperimen estetika. Menurut ulasan yang memuat perbincangan dengan Matteo Bellentani, perjalanan kreativitas itu berkelindan dengan pengalaman di level perusahaan, hingga mencapai posisi di Clarks Originals. Perpindahan dari wacana komunitas ke praktik industri memberi perspektif berbeda tentang apa yang membuat sebuah model menjadi “ikon”.

Mendesain ikon yang tahan waktu

Bellentani membahas aspek yang menentukan apakah sebuah sepatu mampu melampaui masa: proporsi yang matang, pilihan material yang bertahan, dan konstruksi yang tidak terikat pada mode sesaat. Slow design menuntut fokus pada elemen-elemen esensial sehingga bentuk dan fungsi tetap relevan meski selera bergeser.

Hormati subkultur tanpa meniru

Salah satu poin penting dalam pembicaraan tersebut adalah penghormatan terhadap subkultur. Desainer dituntut memahami konteks budaya dan nilai estetika kelompok-kelompok penggemar, tanpa sekadar menyalin simbol atau gaya. Pendekatan yang sensitif dan reflektif menjaga kredibilitas desain dan keterikatan autentik dengan pemakainya.

Masa depan footwear: kembali ke esensi

Dari perspektif yang diuraikan oleh Bellentani, masa depan rancangan alas kaki cenderung bergerak menuju kesederhanaan yang fungsional. Alih-alih menambah ornamen, fokus bergeser pada esensi—ketahanan, kenyamanan, dan garis desain yang jelas—sebagai respons terhadap siklus mode yang cepat.

Pembahasan ini, seperti disampaikan dalam liputan Style Corriere tanggal 11 Juni 2026, menegaskan bahwa slow design bukan sekadar estetika retro, melainkan strategi desain yang memadukan rasa hormat terhadap akar budaya sepatu dan kebutuhan praktis pemakai. Pendekatan tersebut berpotensi mengubah cara industri melihat nilai sebuah model, dari produk sekali pakai menjadi warisan gaya yang tahan lama.

Sumber: Style Corriere

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By keisya